Bali NusraBeritaBerita NTBLombokMataramNTBNTB One TerkiniTNI-Polri

Koramil Model Cetak Prajurit Teritorial Profesional dan Adaptif

×

Koramil Model Cetak Prajurit Teritorial Profesional dan Adaptif

Share this article

Mataram, NTB – Bagi masyarakat, sosok Bintara Pemnina Desa (Babinsa) bukan sekadar prajurit yang datang ketika ada kegiatan. Ia adalah wajah TNI yang paling dekat dengan kehidupan warga. Karena itu, kemampuan mendengar, memahami persoalan, membaca perubahan, hingga hadir memberikan solusi menjadi bagian penting dari tugas aparat kewilayahan.

Semangat tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Pemberdayaan Komando Rayon Militer (Koramil) Model Komando Distrik Militer (Kodim) 1606/Mataram yang digelar di Koramil 1606-01/Cakranegara, Jalan Sandubaya, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Kamis siang (10/9/2026).

Kegiatan yang diikuti sejumlah personel tersebut melibatkan para Danramil dan perwakilan prajurit Koramil jajaran Kodim 1606/Mataram. Kegiatan mengusung tema, “Dengan Pendayagunaan Koramil Model Kita Tingkatkan Angkatan Darat yang Prima, Profesional, Modern dan Adaptif Siap Mendukung Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Maju.”

Babinsa Harus Hadir dengan Pengabdian Nyata

Kegiatan diawali dengan apel pengecekan dan dibuka oleh Kepala Staf Kodim (Kasdim) 1606/Mataram Letkol Arh Huawiry. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa predikat Babinsa sebagai ujung tombak TNI AD harus dibuktikan melalui pengabdian yang dirasakan langsung masyarakat.

“Jangan hanya mengatakan bahwa Babinsa adalah ujung tombak TNI AD. Tunjukkan melalui pengabdian nyata bahwa aparat kewilayahan selalu siap, tanggap dan mampu membaca setiap perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, Babinsa harus mengenali karakter wilayah sekaligus masyarakat yang menjadi binaannya. Tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda perlu dirangkul sebagai mitra dalam menjaga komunikasi serta menciptakan kondisi wilayah yang aman dan kondusif.

“Kenali masyarakat dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di wilayah masing-masing. Jadikan mereka sebagai mitra karib. Bangun silaturahmi dan komunikasi yang baik,” ujarnya.

Mengasah Kemampuan untuk Menjawab Persoalan

Pemberdayaan Koramil Model menjadi sarana untuk menguatkan kembali kemampuan dasar aparat teritorial. Materi diberikan secara bergantian oleh para Danramil dan Perwira Staf Kodim 1606/Mataram.

Materi tersebut mencakup Sikap Teritorial, Lima Kemampuan Teritorial, Metode Binter, Ketatalaksanaan Binter, Cara Memberikan Instruksi, Komunikasi Efektif, Permildas, Pertahanan Negara, UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, Kearifan Lokal hingga Ketahanan Pangan.

Dalam materi Sikap Teritorial, prajurit diingatkan bahwa kedekatan dengan masyarakat dapat dibangun melalui hal-hal sederhana. Senyum, tegur sapa, saling menghargai, membantu warga dan bergotong royong merupakan bentuk komunikasi sosial yang memiliki arti besar.

Sementara Lima Kemampuan Teritorial kembali ditekankan sebagai kemampuan dasar yang harus melekat pada setiap aparat kewilayahan. Kemampuan tersebut meliputi temu cepat dan lapor cepat, manajemen teritorial, penguasaan wilayah, perlawanan rakyat serta komunikasi sosial.

Namun, kemampuan itu tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Setiap prajurit dituntut mampu menerapkannya dalam tugas sehari-hari agar pembinaan teritorial benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kepekaan Menjadi Kekuatan Babinsa

Kasdim 1606/Mataram Letkol Arh Huawiry menekankan pentingnya kepekaan prajurit terhadap perubahan yang terjadi di wilayah.

“Prajurit teritorial harus mampu hadir dengan cara yang tepat. Dengarkan masyarakat, pahami persoalannya, jaga komunikasi dan segera laporkan setiap perkembangan yang membutuhkan perhatian pimpinan. Kepekaan seperti inilah yang harus terus kita bangun,” katanya.

Ia juga meminta para Danramil dan Perwira Staf terus melakukan pengawasan serta memastikan kesiapan personel di lapangan.

“Tugas kewilayahan membutuhkan kedisiplinan, kepedulian dan keikhlasan. Jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dilandasi pengabdian kepada bangsa dan negara, maka kehadiran TNI akan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.

Melalui Pemberdayaan Koramil Model, Kodim 1606/Mataram terus memperkuat kualitas aparat teritorial agar semakin prima, profesional, modern dan adaptif dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat.

Sebab, mengenal wilayah bukan hanya mengetahui batas geografisnya. Bagi seorang Babinsa, mengenal wilayah berarti memahami masyarakatnya, mendengar keluhannya dan hadir ketika dibutuhkan.

Pada titik itulah kedekatan TNI dengan rakyat tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kekuatan pengabdian yang nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…