Bali NusraBeritaBerita NTBLombokLombok BaratNTBNTB One TerkiniSinergitas Pemda TNI POLRI

Kolaborasi TNI dan Petani Wujudkan Panen Berkualitas di Gunungsari

×

Kolaborasi TNI dan Petani Wujudkan Panen Berkualitas di Gunungsari

Share this article

Lombok Barat, NTB – Mentari pagi yang mulai menghangatkan hamparan sawah di Dusun Penanggak, Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, menjadi saksi semangat para petani memanen hasil kerja keras mereka. Di tengah aktivitas panen itu, hadir sosok Bintara Pembina Desa (Babinsa) Midang, Komando Rayon Militer (Koramil) 1606-07/Gunungsari Sertu Parhan Taufiq, yang tak sekadar memantau, tetapi turut mendampingi para petani sebagai bentuk nyata kepedulian TNI AD terhadap ketahanan pangan nasional, Selasa (28/7/2026).

Pendampingan yang dilakukan Babinsa Midang dari Koramil 1606-07/Gunungsari tersebut berlangsung bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Midang, Rahmawati, S.P., serta anggota Kelompok Tani (Poktan) Pade Mauk II. Kebersamaan yang terjalin di tengah areal persawahan mencerminkan kuatnya sinergi antara TNI, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Panen Menjadi Bukti Kerja Keras Bersama

Pada lahan seluas kurang lebih 0,25 hektare, petani berhasil memanen sekitar 1,7 ton gabah. Seluruh proses panen dilakukan menggunakan mesin combine harvester, sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu meminimalkan kehilangan hasil panen.

Bagi para petani, hasil tersebut bukan sekadar angka. Panen kali ini menjadi buah dari proses panjang yang dimulai sejak pengolahan lahan, penanaman, perawatan, hingga akhirnya memasuki masa panen. Kehadiran Babinsa di setiap tahapan itu memberikan rasa percaya diri sekaligus semangat baru bagi para petani untuk terus meningkatkan produktivitas.

Babinsa Hadir Mengawal Ketahanan Pangan

Sertu Parhan Taufiq mengatakan bahwa pendampingan yang dilakukan merupakan bagian dari komitmen TNI AD dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

“Pendampingan kami lakukan sejak proses panen dimulai hingga pengangkutan hasil panen. Selain membantu petani, kami juga memantau kondisi hasil panen serta berdiskusi mengenai berbagai kendala yang dihadapi selama masa tanam. Kehadiran kami diharapkan dapat memberikan motivasi kepada petani agar terus meningkatkan hasil produksi demi mendukung ketersediaan pangan di wilayah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada kerja keras petani, tetapi juga memerlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan TNI.

“Pendampingan ini merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial sekaligus wujud komitmen kami untuk selalu hadir bersama masyarakat. Ketahanan pangan akan semakin kuat apabila semua pihak saling bersinergi,” tambahnya.

Petani Merasa Lebih Termotivasi

Ketua Poktan Pade Mauk II, H. Darmawan, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Babinsa yang selama ini konsisten mendampingi petani.

Menurutnya, kehadiran Babinsa tidak hanya membantu saat panen berlangsung, tetapi juga sejak proses pengolahan lahan, penanaman hingga perawatan tanaman. Pendampingan tersebut memberikan rasa aman sekaligus motivasi bagi para petani untuk terus mengembangkan usaha pertanian mereka.

“Babinsa selalu hadir di tengah-tengah kami. Pendampingan yang diberikan menjadi penyemangat bagi para petani untuk terus meningkatkan hasil pertanian demi kesejahteraan keluarga,” ungkap H. Darmawan.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, TNI AD terus menunjukkan bahwa menjaga ketahanan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab petani semata. Sinergi yang terbangun antara aparat kewilayahan, penyuluh pertanian, dan kelompok tani menjadi fondasi penting dalam menciptakan pertanian yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Dari hamparan sawah di Desa Midang, semangat gotong royong itu kembali membuktikan bahwa ketahanan pangan nasional dimulai dari kepedulian terhadap petani di tingkat desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…