Berita

Polsek Kawasan Pelabuhan Laut Bima Laksanakan Pengamanan KM Wilis Saat Embarkasi dan Debarkasi Penumpang

×

Polsek Kawasan Pelabuhan Laut Bima Laksanakan Pengamanan KM Wilis Saat Embarkasi dan Debarkasi Penumpang

Share this article

Kota Bima, NTB – Personel Polsek Kawasan Pelabuhan Laut Bima melaksanakan pengamanan terhadap aktivitas embarkasi dan debarkasi Kapal Pelni KM Wilis di Pelabuhan Bima, Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 19.15 Wita.

Kegiatan pengamanan berlangsung di area Pelabuhan Bima, Jalan R.E. Martadinata, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima.

Kapolres Bima Kota AKBP Mubiarto S.I.K., M.M melalui Kasi Humas Polres Bima Kota IPDA Baiq Fitria Ningsih menjelaskan bahwa KM Wilis bersandar di Pelabuhan Bima dan melaksanakan proses naik turun penumpang dengan aman dan lancar.

“Pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 2026 sekitar pukul 19.15 Wita, KM Wilis tiba di Pelabuhan Bima dari Pelabuhan Labuan Bajo dan melaksanakan embarkasi serta debarkasi penumpang,” jelas IPDA Baiq Fitria Ningsih.

Berdasarkan data manifest, total penumpang yang berada di atas kapal sebanyak 222 orang, dengan rincian penumpang turun di Pelabuhan Bima sebanyak 121 orang dan penumpang lanjutan sebanyak 101 orang.

Sementara itu, jumlah penumpang yang naik dari Pelabuhan Bima menuju Pelabuhan Waikelo dan pelabuhan tujuan selanjutnya tercatat sebanyak 522 orang, sehingga total penumpang yang diberangkatkan dari Pelabuhan Bima mencapai 623 orang.

Sekitar pukul 20.30 Wita, KM Wilis kembali bertolak meninggalkan Pelabuhan Bima menuju Pelabuhan Waikelo dan pelabuhan tujuan berikutnya.

Selama proses embarkasi dan debarkasi berlangsung, personel Polsek Kawasan Pelabuhan Laut Bima melaksanakan pengamanan guna memastikan situasi tetap aman, tertib dan kondusif. Kegiatan tersebut juga dimonitor langsung oleh Kapolsek Kawasan Pelabuhan Laut Bima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…