Berita

Polsek Plampang Mediasi Dugaan Penganiayaan, Berakhir Damai Kekeluargaan

×

Polsek Plampang Mediasi Dugaan Penganiayaan, Berakhir Damai Kekeluargaan

Share this article

Sumbawa Besar, NTB — Kepolisian Sektor Plampang berhasil memfasilitasi penyelesaian masalah (problem solving) terkait dugaan penganiayaan yang dilaporkan pada 24 Juli 2025. Mediasi yang melibatkan kedua belah pihak ini dilaksanakan pada Senin, 28 Juli 2025, sekitar pukul 14.55 WITA, bertempat di Ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Plampang.

Kasus ini bermula dari kesalahpahaman antara CH (18), seorang pelajar/mahasiswa dari Desa Usar, Kecamatan Plampang, sebagai pelapor, dengan J (39), seorang petani dari desa yang sama, sebagai terlapor. Insiden ini terjadi pada Rabu, 23 Juli 2025, sekitar pukul 23.00 WITA, di Lapangan Sepak Bola PPN, dan kemudian dilaporkan ke Polsek Plampang pada 24 Juli 2025.

Tim Regu III Polsek Plampang, bertindak sebagai fasilitator dalam mediasi ini. Dengan pendekatan yang persuasif, anggota kepolisian berhasil mempertemukan kedua belah pihak untuk mencari solusi terbaik.

Kapolres Sumbawa AKBP Marieta Dwi Ardhini, S.H.,S.I.K, setelah dikonfirmasi melalui Kapolsek Plampang Iptu Joko Wilopo, upaya mediasi ini membuahkan hasil positif. Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan permasalahan ini secara damai dan kekeluargaan. Sebagai bentuk komitmen, mereka juga telah membuat surat pernyataan bersama.

“Ini menunjukkan bahwa dengan komunikasi yang baik dan fasilitasi dari kepolisian, banyak masalah bisa diselesaikan tanpa harus melalui jalur hukum yang panjang. Kami selalu mengedepankan pendekatan restorative justice untuk menciptakan harmoni di masyarakat.” ujar Kapolsek Plampang.

Dengan penyelesaian ini, diharapkan hubungan baik antara Cahya Hermanto dan Johari dapat kembali terjalin, serta tercipta suasana yang lebih kondusif di lingkungan mereka. Keberhasilan mediasi ini juga memperkuat hubungan baik antara anggota Polri dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan. (MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…