Lombok Barat, NTB – Semangat pelestarian budaya khas suku Sasak kembali bergelora di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Pada Kamis sore, 2 April 2026, ratusan pasang mata tertuju pada arena laga di Dusun Paokkambut, Desa Telagawaru, Kecamatan Labuapi. Di sana, berlangsung ajang bergengsi Tarung Pepadu Roadshow Peresean 2026, sebuah atraksi seni bela diri tradisional yang mengadu ketangkasan dan keberanian para petarung di atas panggung kehormatan.
Acara yang diinisiasi oleh Paguyuban Patih Ganda Urip ini bukan sekadar tontonan fisik semata, melainkan sebuah manifestasi identitas lokal yang terus dijaga eksistensinya di tengah modernisasi. Roadshow ini direncanakan berlangsung selama sepuluh hari penuh, dimulai sejak Senin, 30 Maret 2026, dan dijadwalkan akan berakhir pada Rabu, 8 April 2026 mendatang. Kehadiran kegiatan ini menjadi magnet bagi masyarakat setempat untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi.
Sinergi Pengamanan untuk Kelancaran Seni Budaya
Mengingat antusiasme penonton yang cukup besar, pihak kepolisian mengambil langkah preventif untuk memastikan acara berjalan tertib. Personel Polsek Labuapi dikerahkan ke lokasi guna memberikan rasa aman bagi para penonton maupun para pepadu yang bertanding. Fokus pengamanan meliputi area parkir, pintu masuk, hingga lingkar arena pertandingan guna mengantisipasi gesekan antar penonton yang mungkin terjadi akibat tingginya tensi pertandingan.
Kapolres Lombok Barat, Polda NTB, AKBP Yasmara Harahap, S.I.K., M.Si., melalui Kapolsek Labuapi, Iptu I Nyoman Rudi Santosa, menegaskan bahwa kehadiran aparat di tengah masyarakat merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus kewajiban dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah. Pengamanan dilakukan secara humanis namun tetap tegas dalam menegakkan aturan di lapangan.
“Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan bahwa niat mulia dalam melestarikan budaya ini tidak tercederai oleh gangguan keamanan. Kami memberikan pengamanan penuh agar masyarakat dapat menikmati hiburan tradisional ini dengan rasa nyaman dan damai,” ujar Iptu I Nyoman Rudi Santosa saat ditemui di lokasi pertandingan.
Pertemuan Dua Paguyuban Besar di Arena Laga
Pertunjukan pada hari Kamis tersebut menyuguhkan duel-duel sengit yang mempertemukan dua kelompok besar dari wilayah yang berbeda. Paguyuban Sekar Petaji dari Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, harus berhadapan dengan ketangkasan Paguyuban Tandon Payung Sejagat yang datang dari Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah.
Pertemuan dua paguyuban lintas kabupaten ini menambah prestise acara tersebut. Suara tabuhan Gendang Beleq yang mengiringi setiap gerakan pepadu menambah atmosfer heroik di dalam arena. Meskipun saling serang menggunakan penjalin (rotan) dan menangkis dengan ende (perisai kulit kerbau), para pepadu tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas. Setelah pertandingan usai, para petarung saling berangkulan, menunjukkan bahwa Peresean adalah ajang persaudaraan, bukan ajang permusuhan.
Iptu I Nyoman Rudi Santosa menambahkan bahwa pihak kepolisian sangat mengapresiasi kedewasaan para penonton dan sportivitas para atlet. Menurutnya, koordinasi yang baik antara panitia penyelenggara dari Paguyuban Patih Ganda Urip dengan pihak kepolisian menjadi kunci utama suksesnya gelaran ini.
“Kami mengapresiasi seluruh elemen masyarakat, terutama para pendukung dari kedua paguyuban, yang telah menjaga situasi tetap kondusif. Ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat berjalan selaras dengan kesadaran menjaga ketertiban umum,” tambah Kapolsek Labuapi tersebut.
Komitmen Pelestarian Budaya dan Stabilitas Wilayah
Kegiatan Tarung Pepadu Roadshow Peresean 2026 ini diikuti oleh kurang lebih 200 penonton yang memadati area sekitar arena. Meskipun jumlah massa cukup banyak, jalannya acara terpantau terkendali hingga kegiatan berakhir pada pukul 18.00 WITA. Polsek Labuapi pun memastikan akan terus mengawal jalannya roadshow ini hingga hari penutupan nanti.
Selain sebagai sarana hiburan, Peresean memiliki makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Lombok. Nilai-nilai keberanian, ketangguhan, dan kerendahan hati diajarkan secara tersirat melalui seni ini. Dengan adanya pengawalan dari pihak kepolisian, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin di masa mendatang sebagai bagian dari promosi pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Lombok Barat.
Hingga laga usai sore itu, situasi di Desa Telagawaru dilaporkan aman, lancar, dan kondusif. Keberhasilan pengamanan ini menjadi bukti nyata sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur agar tetap lestari di tanah Seribu Masjid.











