Lombok Barat, NTB – Tradisi adat Nyongkolan merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Untuk memastikan kearifan lokal ini berjalan harmonis tanpa mengganggu ketertiban umum, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sekotong melakukan pengamanan ketat terhadap jalannya prosesi adat di Dusun Pelangan Timur Satu, Desa Pelangan, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, pada Kamis (29/1/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 17.00 WITA tersebut melibatkan iring-iringan masyarakat yang menggunakan badan jalan raya Mekaki. Mengingat jalur tersebut merupakan akses utama, kehadiran pihak kepolisian menjadi sangat krusial guna mencegah terjadinya kemacetan panjang maupun potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Komitmen Polri dalam Pelestarian Budaya dan Keamanan
Kapolres Lombok Barat, Polda NTB, AKBP Yasmara Harahap, S.I.K., melalui Kapolsek Sekotong, Iptu I Ketut Suriarta, SH., M.I.Kom., menegaskan bahwa kehadiran personel kepolisian di tengah kegiatan masyarakat adalah bentuk pelayanan prima. Pihaknya berkomitmen untuk selalu hadir mengawal setiap kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar, terutama yang berkaitan dengan pelestarian adat istiadat.
“Kami melaksanakan pengawalan dan pengamanan ini agar masyarakat yang menjalankan tradisi Nyongkolan dapat melaksanakannya dengan khidmat, sementara pengguna jalan lainnya pun tidak merasa terganggu. Ini adalah upaya kami dalam menciptakan keseimbangan antara pelestarian budaya dan ketertiban lalu lintas,” ujar Iptu I Ketut Suriarta saat memberikan keterangan resmi.
Dalam pelaksanaannya, Polsek Sekotong menerjunkan personel dari unit Lantas serta Bhabinkamtibmas Desa Pelangan. Kehadiran personel ini bertujuan untuk memastikan setiap langkah iringan musik tradisional Kecimol tetap berada dalam jalur yang telah dikoordinasikan, serta mengantisipasi gesekan antar-warga atau perilaku yang dapat memicu konflik di jalan raya.
Pengaturan Arus Lalu Lintas di Jalur Mekaki
Prosesi Nyongkolan kali ini dimeriahkan oleh dentuman musik Kecimol yang cukup energik, menarik perhatian warga sekitar dan pengendara yang melintas. Kondisi ini membuat jalan raya Mekaki di Desa Pelangan menjadi cukup padat. Dua anggota Unit Lantas Polsek Sekotong tampak sigap melakukan pengaturan arus dengan sistem buka-tutup guna menjamin kelancaran mobilitas kendaraan.
Selain melakukan pengaturan fisik di lapangan, petugas juga secara persuasif memberikan imbauan kepada para peserta Nyongkolan. Mereka diingatkan untuk tidak mengonsumsi minuman keras selama prosesi dan tetap menjaga etika di jalan raya. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga citra positif dari tradisi adat itu sendiri agar tidak tercoreng oleh tindakan-tindakan yang merugikan orang lain.
Iptu I Ketut Suriarta menambahkan bahwa pihaknya senantiasa menekankan pentingnya kerja sama antara masyarakat dan Polri. Menurutnya, kesadaran peserta untuk tertib adalah kunci utama suksesnya sebuah pengamanan kegiatan massa.
“Kami selalu menghimbau kepada masyarakat yang melakukan kegiatan Nyongkolan agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Alhamdulillah, masyarakat sangat kooperatif dan mengikuti arahan dari anggota kami di lapangan,” tambahnya.
Situasi Kondusif dan Apresiasi dari Masyarakat
Tepat pada pukul 18.00 WITA, seluruh rangkaian kegiatan pengamanan dinyatakan selesai seiring dengan tibanya rombongan Nyongkolan di lokasi tujuan. Personel Polsek Sekotong kemudian kembali ke Mako Polsek setelah memastikan situasi benar-benar landai dan arus lalu lintas kembali normal.
Berdasarkan laporan hasil kegiatan, tidak ditemukan adanya kejadian menonjol maupun gangguan kamtibmas yang berarti. Keberhasilan pengamanan ini mendapat respon positif dari warga setempat. Banyak warga dan tokoh masyarakat yang mengapresiasi kesigapan anggota polisi dalam mengawal jalannya acara, mengingat jalur Sekotong kini semakin ramai oleh aktivitas pariwisata dan logistik.
Dengan terciptanya situasi yang kondusif di wilayah Desa Pelangan, Polri berharap sinergitas antara aparat penegak hukum dan masyarakat dapat terus terjaga. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan adat yang melibatkan banyak orang dapat berjalan berdampingan dengan aspek keamanan nasional jika dikelola dan dikawal dengan baik oleh pihak berwenang.











